Siklus Rembulan
Pernah kuberharap bahwa hidup akan selamanya indah. Tak pernah dan tak sedikitpun aku membayangkan bahwa aku akan mengalami salah satu hal terburuk dalam hidup ini.
Munafik, itu yang sering terdengar ambigu dari beberapa orang. Aku tahu arti kata itu dalam keyakinanku, namun dalam kehidupan sehari-hari bukankah itu terdengar lazim saja? Entahlah aku belum bisa membedakan mana munafik atau bermuka dua.
Hampir genap 2 tahun aku membohongi diriku sendiri. Menciptakan angan bahwa kamu akan datang kembali, memulai yang sebenarnya sudah tidak bisa dilanjutkan. Percayalah semenjak hari itu, tidak ada satu haripun yang aku lewatkan untuk sekadar terdiam, memejamkan mata, lalu berbisik lirih bahwa aku rindu. Tidak ada satu haripun yang aku lewatkan untuk menengok kedalam gang rumahmu, berharap waktu dapat terulang agar aku dapat menikmati masa itu walau sekali lagi dalam hidupku. Usahaku menghindari jalan offroad diantara perumahan kita agar aku tak selalu tersenyum pahit melihat bayangan kita lewat tentu gagal total.
Bagaikan air yang terus mengalir, mencari muara yang ia tuju, begitupun dengan kehidupan. Hukum gravitasi hanyalah tambahan iming-iming bagi sang air, begitupun hukum perputaran hanyalah tambahan iming-iming bagi kehidupan. Namun, dengan mengenalmu aku baru tahu bahwa Hukum gravitasi dan perputaran itu bukan sekadar iming-iming belaka. Mereka benar-benar nyata. Aku tidak akan membahas hukum gravitasi ataupun yang berhubungan dengan Einstein, tunggulah sampai mimpiku terkabul. Yang akan aku bahas disini mengenai perputaran kehidupan. Sudah terlalu banyak kata-kata bijak tentang kehidupan untuk menjelaskan bahwa kehidupan tidak akan selalu berada diatas. Aku paham, banyak pelajaran yang aku dapatkan dari pertemuan antara kita. Misalkan dengan mengenalmu aku tahu arti sayang, takut akan kehilangan, sakitnya jatuh hati, air mata, dan rindu yang tak pernah tersampaikan.
Dulu sekali, saat semua masih terlihat tabu, aku sudah memiliki kekaguman kepadamu. Aku selalu mencoba untuk ada dipihakmu. Bahkan aku sempat menenangkan adik cantikmu karna marah kamu dicaci maki oleh teman-temanku padahal memang saat itu kamu ditempat yang salah. Posisi kehidupanku bisa dibilang berada dibawah, dimana usahaku membuatmu jatuh hati tak pernah terlihat walau sedikitpun.
Menjelang remaja, perlahan perputaran kehidupan mulai mempengaruhiku. Posisi kehidupan itu perlahan naik keatas hingga sempat lepas dari tempat rodanya. Awalnya aku bersyukur dijadikan salah satu tempat bercurah keluh kesahmu setiap hari, meskipun hampir seluruh ceritamu adalah tentang wanita teman-temanku. Kisah cintamu sudah tamat aku pahami dari mulainya kamu mengenal rasa suka hingga...tentu saat itu. Kamu teramat baik kepadaku, rela berkorban untukku, menemani disaat hari terburukku ataupun setiap saat yang ada, menatap langit penuh bintang bersama, bercerita tentang angan masa depan, hingga hal yang sama sekali tak penting...mengajariku agar tidak panik saat ada hewan yang ada ditubuh.
Hidup tetaplah hidup. Aku memang benar-benar bahagia bersamamu, namun saat itu kau merusaknya dengan sekali cara. Hampir 3 tahun kulewati tanpamu. Tanpa kabarmu. Tiada kamu disini. Aku rindu...bahkan sekarang rinduku tak dapat tertampung lagi dalam tempatnya, apalagi semenjak kepindahan diriku. Aku tidak pamit pada siapapun teman-teman lamaku memang, sengaja karna aku tak mau tahu belas kasihan mereka. Aku tak bisa lagi melewati gang rumahmu sekadar melihat keadaan luar rumahmu yang selalu sepi saat itu, aku tak bisa lagi melewati jalanan offroad sekadar mengenang percakapan demi percakapan yang kita ciptakan, aku tak bisa lagi mendengar petikan lagu dari kamarmu yang selalu terdengar saat malam tiba, dan banyak hal lainnya lagi.
Hey! Lihatlah sekarang... Aku sudah bisa lebih mandiri, bisa lebih kuat, bisa lebih berani seperti yang kau minta. Tapi kini kamu menciptakan diriku yang baru. Diri tanpa kasih sayang, peduli, dan tanpa cinta. Diri yang kaku. Diri yang sama sekali tidak menyenangkan. Namun tenang...aku lebih bisa bersandiwara. Berlagak bersikap bodoh, konyol, penuh kesabaran, yang nyatanya aku tak lebih dari seorang yang bermuka dua. Tolong aku...keluarkan aku dari keterjebakan ini. Aku sayang sekali pada lingkungan sekarang, tapi aku lebih suka saat ada penggantimu disini. Ah sudahlah, sepertinya lebih seru jika itu kamu yang asli.
Oh iya untuk kamu...satu hal, terimakasih telah menjadi penyempurna patahku yang begitu hebat, terimakasih juga telah memberi malam-malam dengan tangisanku yang begitu panjang.
Munafik, itu yang sering terdengar ambigu dari beberapa orang. Aku tahu arti kata itu dalam keyakinanku, namun dalam kehidupan sehari-hari bukankah itu terdengar lazim saja? Entahlah aku belum bisa membedakan mana munafik atau bermuka dua.
Hampir genap 2 tahun aku membohongi diriku sendiri. Menciptakan angan bahwa kamu akan datang kembali, memulai yang sebenarnya sudah tidak bisa dilanjutkan. Percayalah semenjak hari itu, tidak ada satu haripun yang aku lewatkan untuk sekadar terdiam, memejamkan mata, lalu berbisik lirih bahwa aku rindu. Tidak ada satu haripun yang aku lewatkan untuk menengok kedalam gang rumahmu, berharap waktu dapat terulang agar aku dapat menikmati masa itu walau sekali lagi dalam hidupku. Usahaku menghindari jalan offroad diantara perumahan kita agar aku tak selalu tersenyum pahit melihat bayangan kita lewat tentu gagal total.
Bagaikan air yang terus mengalir, mencari muara yang ia tuju, begitupun dengan kehidupan. Hukum gravitasi hanyalah tambahan iming-iming bagi sang air, begitupun hukum perputaran hanyalah tambahan iming-iming bagi kehidupan. Namun, dengan mengenalmu aku baru tahu bahwa Hukum gravitasi dan perputaran itu bukan sekadar iming-iming belaka. Mereka benar-benar nyata. Aku tidak akan membahas hukum gravitasi ataupun yang berhubungan dengan Einstein, tunggulah sampai mimpiku terkabul. Yang akan aku bahas disini mengenai perputaran kehidupan. Sudah terlalu banyak kata-kata bijak tentang kehidupan untuk menjelaskan bahwa kehidupan tidak akan selalu berada diatas. Aku paham, banyak pelajaran yang aku dapatkan dari pertemuan antara kita. Misalkan dengan mengenalmu aku tahu arti sayang, takut akan kehilangan, sakitnya jatuh hati, air mata, dan rindu yang tak pernah tersampaikan.
Dulu sekali, saat semua masih terlihat tabu, aku sudah memiliki kekaguman kepadamu. Aku selalu mencoba untuk ada dipihakmu. Bahkan aku sempat menenangkan adik cantikmu karna marah kamu dicaci maki oleh teman-temanku padahal memang saat itu kamu ditempat yang salah. Posisi kehidupanku bisa dibilang berada dibawah, dimana usahaku membuatmu jatuh hati tak pernah terlihat walau sedikitpun.
Menjelang remaja, perlahan perputaran kehidupan mulai mempengaruhiku. Posisi kehidupan itu perlahan naik keatas hingga sempat lepas dari tempat rodanya. Awalnya aku bersyukur dijadikan salah satu tempat bercurah keluh kesahmu setiap hari, meskipun hampir seluruh ceritamu adalah tentang wanita teman-temanku. Kisah cintamu sudah tamat aku pahami dari mulainya kamu mengenal rasa suka hingga...tentu saat itu. Kamu teramat baik kepadaku, rela berkorban untukku, menemani disaat hari terburukku ataupun setiap saat yang ada, menatap langit penuh bintang bersama, bercerita tentang angan masa depan, hingga hal yang sama sekali tak penting...mengajariku agar tidak panik saat ada hewan yang ada ditubuh.
Hidup tetaplah hidup. Aku memang benar-benar bahagia bersamamu, namun saat itu kau merusaknya dengan sekali cara. Hampir 3 tahun kulewati tanpamu. Tanpa kabarmu. Tiada kamu disini. Aku rindu...bahkan sekarang rinduku tak dapat tertampung lagi dalam tempatnya, apalagi semenjak kepindahan diriku. Aku tidak pamit pada siapapun teman-teman lamaku memang, sengaja karna aku tak mau tahu belas kasihan mereka. Aku tak bisa lagi melewati gang rumahmu sekadar melihat keadaan luar rumahmu yang selalu sepi saat itu, aku tak bisa lagi melewati jalanan offroad sekadar mengenang percakapan demi percakapan yang kita ciptakan, aku tak bisa lagi mendengar petikan lagu dari kamarmu yang selalu terdengar saat malam tiba, dan banyak hal lainnya lagi.
Hey! Lihatlah sekarang... Aku sudah bisa lebih mandiri, bisa lebih kuat, bisa lebih berani seperti yang kau minta. Tapi kini kamu menciptakan diriku yang baru. Diri tanpa kasih sayang, peduli, dan tanpa cinta. Diri yang kaku. Diri yang sama sekali tidak menyenangkan. Namun tenang...aku lebih bisa bersandiwara. Berlagak bersikap bodoh, konyol, penuh kesabaran, yang nyatanya aku tak lebih dari seorang yang bermuka dua. Tolong aku...keluarkan aku dari keterjebakan ini. Aku sayang sekali pada lingkungan sekarang, tapi aku lebih suka saat ada penggantimu disini. Ah sudahlah, sepertinya lebih seru jika itu kamu yang asli.
Oh iya untuk kamu...satu hal, terimakasih telah menjadi penyempurna patahku yang begitu hebat, terimakasih juga telah memberi malam-malam dengan tangisanku yang begitu panjang.
Wado uda apdet, ku baru baca
BalasHapus