Bandung Bersenandung

Hallo Bandung!

Sewaktu kecil pernah sekali aku menginjakkan kaki disini. Dingin rasanya, dan ternyata saat ini masih dingin rupanya. Sungguh tak terbayang rasa senang saat kembali disini. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dari kota ini, hanya saja aku tak sabar bertemunya!

Dia bertanya bersama siapa aku datang? Lalu aku menjawab. Dia bertanya lagi apakah aku mau main? Lalu aku menjawab. Dia bilang sekadar berkeliling-keliling maksudnya. Lalu aku menjawab. Dia bilang tapi makan dulu ya. Lalu aku menjawab. Dia bertanya ada dimana aku? Lalu aku mengambil gambar ikon dari gedung disini. Lalu dia bilang baiklah tunggu sebentar.

Aku melihatnya, lalu mencoba menghampiri. Tarik nafas agar bayangan masa lalu segera kabur saat melihat mata itu lagi. Dia berbalik, secara spontan aku melambaikan tangan. Dia bertanya mengapa aku menuju daerah sini, tidak ada apa-apa disini. Lalu aku menjawab. Dia bertanya apakah aku serius dengan pilihanku. Lalu aku menjawab. Dia duduk, dibawah sinar matahari hampir tengah siang. Dia memberiku info bahkan saran yang berhasil membuatku membeku bahkan hingga saat ini.

Tepat tengah siang, beranjak dari tempat duduk ingin menuju tempat ibadah. Dia bilang dekat dengan nuklir-nukliran. Diam. Seketika sunyi. Dia melihat sekeliling. Dia bilang ayo lewat jalan sini.

Setelah itu lama. Aku tidak beritahu semuanya. Lama lagi. Lagi. Dan lagi. Dia bertanya aku hendak kemana lagi. Lalu aku menjawab. Dia bilang kalau dia tak tahu apakah kantin buka. Lalu aku menjawab. Dia bertanya apakah tahu perihal nasjep atau naskor. Lalu aku menjawab. Dia bertanya apakah mau coba. Lalu aku menjawab. Dia bilang baiklah depan salman. Lalu aku menjawab.

Lalu sampai.
Lalu aku cari tempat duduk.
Tapi dia tetap ditempat.
Lalu aku diam.
Lalu dia memberi isyarat.
Tapi aku tetap diam.
Lalu dia melambaikan tangan.
Lalu aku membalas.
Tapi aku tidak mengerti.

Haha haha sudahlah, kata dia bilang atau dia bertanya sudah melebihi batas wajar. Apalagi lalu aku menjawab. Hal itu akan berbeda dengan apa yang sudah kalian baca di buku lain. Tulisanku punya dunianya sendiri. Tulisanku bebas. Dan biarkan walau hanya sekadar tulisanku yang bebas, tentu yang lainnya kebas!

Terimakasih Bandung, kamu berhasil membuatku semakin bingung dengan apa yang akan aku pilih beberapa bulan kedepan.

Kini izinkan Bandung bersenandung bersamaku.

Komentar

Postingan Populer