Kenangan Rembulan
"Kamu tahu? Aku punya satu permintaan khusus untukmu," aku menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun walau tatapan dia masih kepada langit malam.
"Tidak semuanya kenangan harus diabadikan dengan ponsel kan? Gampang sekali orang-orang memotret dirinya bersama orang yang mereka hmm...ya kamu tau apa maksudku kan?" aku tau, jelas dia tidak pernah berani mengucapkan kata sayang secara terang-terangan seperti ini. Lagi-lagi aku hanya diam menunggu kata-kata selanjutnya.
"Sekarang, tutup mata kamu. Aku tidak akan macam-macam serius," tangannya membentuk peace dan menatapku dengan yakin. Aku menurutinya.
"Bayangkan apa yang tadi kamu lihat sebelum menutup mata," masih tetap ku mengikuti apa katanya, membayangkan wajahnya sedetail mungkin.
"Kamu bayangin apa?" dia bertanya sambil tertawa.
"Ih sebel.. Ya yang tadi aku liat lah," aku memukulnya namun masih kututup mataku.
"Hahaha, lanjutin ya.. Sekarang coba kamu simpan secara permanen kenangan ini didalam diri kamu,"
"Bagaimana caranya?" aku bertanya.
"Sebisa kamu, disinilah penanan permintaan aku.. Aku ingin kamu menyimpan segala kenangan dalam bentuk apapun dalam dirimu. Sekarang kamu boleh melek lagi," ucapnya sambil terkekeh dengan mimik bingungku.
"Dengarkan aku, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya kan? Misalkan saja ponselku tiba-tiba rusak lalu isi curhat aku dan kamu hilang bersamanya, tetapi kalau aku menyimpannya aku akan selalu ingat kan? Tidak tergantung pada benda, dunia maya, atau lainnya yang tidak tahu seperti apa kedepannya," aku tersenyum, dengan sempurna mengerti apa yang dikatakannya.
"Bagaimana jika kenangan itu dapat menyakiti pengingatnya? Sama saja terjebak bukan? Aku takut," malu sekali aku bertanya seperti ini padanya, itu sama saja aku mengakui takut untuk kehilangan. Namun apa daya, semua terlanjur aku ucapkan padanya.
"Tidak semua kenangan indah memang. Sepahit apapun kenangan, setidak menyenangkan apapun kenangan, ia tetap kenangan, tidak akan datang dua kali dalam rasa yang sama. Kamu tidak perlu takut, karna setidaknya kamu pernah merasakannya kan," dia mengakhirinya dengan tersenyum tulus.
Aku tahu, aku paham. Kenangan tidak semuanya indah. Setiap kenangan bersama dia selalu aku ingat. Baru kusadari sekarang bahwa kenangan itu kejam, satu terungkit, beribu menyerang tanpa ampun sampai pemilik semuanya berteriak dalam diam.
Komentar
Posting Komentar