Kepingan Rembulan
Beberapa hari yang lalu, aku sempat pergi ke rumahnya (lagi). Walau hampir 2 tahun aku dan dia hilang kontak, tetapi aku masih berhubungan baik dengan adiknya. Mantan calon adik ipar. Tak apalah aku bercanda sedikit:) Aku dan mantan calon adik iparku berhubungan karena suatu hal yang berkaitan dengan kepramukaan. Aku sering meminjam kompor dan dia sering meminjam peralatan penggalangku, jadilah aku dan dia lumayan sering bertemu.
Rindu? Ya, tidak perlu ditanya lagi. Ingin rasanya berlari berhambur ke pelukannya lagi. Ingin rasanya berteriak sekencangmungkin bahwa aku sangat amat merindukannya. Namun tidak lah sekarang. Aku bukan siapa-siapanya lagi. Aku tidak ada hubungan dengannya lagi. Banyak hal yang dia coba untuk membuatku kembali seperti yang dia kenal saat kami sedang sangat dekat. Mulai dari mengajak berbicara, bercanda, hingga tatap mata yang seakan menginginkan aku kembali menjadi diriku. Dia salah besar. Walau aku masih amat mencintainya sampai detik ini, rasaku bahkan rinduku telah kupaksa mati-matian agar tidak terlihat dihadapannya. Egoku semakin besar tatkala hanya berdiam diri saat diajak berbicara, mengacuhkannya seakan aku yang paling sakit dalam proses kehidupan ini.
Tahu kah kamu? Aku berharap semoga kamu membaca ini suatu saat. Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu, tidak bermaksud memperlihatkan wajah kebencian kepadamu. Sungguh, perlu berapa kali kubilang bahwa aku merindukan dirimu. Aku terpaksa, sungguh bukan aku yang mengendalikan diriku saat berhadapan denganmu. Ingin sekali aku tetap menjadi diriku semenjak keputusanmu memblokir serta mengakhiri hubungan kami. Aku tahu alasannya, aku sudah dijelaskan oleh beberapa orang yang terpat dengan masalah ini. Namun tak ada satupun yang memiliki cerita yang sama. Maka dari itu, aku tidak percaya siapa2 selain diriku pada saat itu. Aku menanti penjelasan darimu. Sungguh aku tidak berbohong.Aku tidak perlu maaf dan tatapan mata rasa penyesalan karena aku memang tidak bisa membencimu.
Malam itu, saataku mengembalikan kompor dan memberikan baju pramukaku kepada adikmu, aku mendengar kamu sedang memainkan gitarmu. Rasanya walau aku berteriak memanggil nama mantan calon adik iparku hampir 30 menit itu tak terasa karena mendengar suaramu. Lagu itu, lagu yang mengiri kebersamaan kita dahulu. Aku ingat bagaimana kamu mengajariku kunci-kunci lagu tersebut agar bisa berduet. Aku ingat bagaimana kamu mengirimkan rekaman lagu itu hanya karena aku bosan. Aku ingat manakali kamu menyuruhku bernyanyi mengiringi gitarmu saat pementasan di sekolah. Aku ingat. Kenangan itu seakan menyeruak keluar pada saat yang bersamaan. Membongkar habis isi di hati yang sebenarnya sudah kututup rapat-rapat dua tahun yang lalu.
Rasanya masih sama. Sama persis malah. Ingatanku kembali lagi pada saat ini. Saat ini kamu tak lagi mengirimkannya padaku, melainkan wanita lain. Dari mana aku tahu padahal aku membalas memblock semua akunmu? Aku membuka media sosial angkatan kita. Walau sakit tapi rasa penasaran selalu lebih kuat dan menang. Aku tak lagi bisa menangis. Lelah. Sebab itu inilah akhir dari tangisanku. Bukan lagi karena kata-kata bijak "tak apa kamu menangis sekarang, namun janganlah menangis karena hal yang sama nantinya" yang sering aku baca, namun memang sudah lelah raga ini akan kisah diriku sendiri.
Tepat aku banyak berpikir tentang semua ini diiringi lagu yang dia nyanyikan dari dalam rumah, pintu dibuka oleh adiknya. Sempatku berharap bahwa dia yang membukakannya untukku. Terkadang bukan terkadang hidup tak sesuai kenyataan, bagiku ini adalah sering.
Mantap Cess!!
BalasHapus