Tenggelamnya Rembulan

Tenggelamnya Rembulan

Semenjak ia menjatuhkan hati kepada wanita itu, akulah yang berperan dalam kisah mereka. Kisah yang sudah lama tersimpan, namun sekalipun belum sempat tertulis. Kisah yang tidak sengaja menyelesaikan buku kedua tentang kepingan hati, yaitu kisah kami. Kisah ini bermula dari ia yang tak pernah absen untuk sekadar berbicara padaku walau hanya menanyakan kondisi wanitanya. Oh, bukan… Itu belum wanita miliknya. Sehelai benangpun tidak ada ikatan diantara mereka.

Wanita itu terlalu sempurna jika dibandingkan denganku. Aku yang hanya bermodal kesederhanaan perlahan berani untuk menyentuh sebagian dari kehidupan Pria itu. Ia yang telah membuat hati ini tak mau patuh padaku agar tak jatuh saat radar ini mendeteksi keberadaan Pria itu.

Aku mencintainya, maka biarlah ini urusanku. Entah bagaimana ia kepadaku, maka itu urusannya. Sekarang di bawah hamparan langit, ia kembali berkunjung ke rumahku. Ia duduk di depanku dibatasi oleh sepeda motor nya sebagai tumpuan bagi kertas-kertas pekerjaan organisasi kami.

Supermoon,” ia terlihat tak sadar saat mengucapkannya dihadapanku. Aku tetap diam setelah kami menyelesaikan tugas dan juga setelah ia mengucapkan itu.

“Eh, saya lupa ingin bertanya sesuatu,” ucapnya menatap wajahku.

“Katakan,” aku mempersilahkannya dengan singkat, tahu apa maksud pertanyaan dibaliknya.

“Kenapa purnama kali ini terlihat lebih besar dari biasanya?” kepalanya mengadah ketas langit, meneliti setiap inci dari bulan yang dilihatnya.

“Boleh saya pinjam tanganmu sebentar?” jawabku serius menanggapinya. Membentuk tangannya seperti oval agar aku mudah menjelaskan.

“Ini garis edarnya bulan. Dalam astronomi namanya elips, tapi bilang saja oval. Bumi bukan berada di tengah oval ini, tapi berada disekitar ¼ dan ¾ nya, nah supermoon itu saat bulan berada dititik terdekarnya dengan bumi. Istilah astronominya perihelium. Satu lagi namanya…” aku terhenti saat ia tak lagi fokus pada tangannya, menatapku dengan berharap bahwa dia akan memahami apa yang aku katakan.

“Anak multimedia belajar sama anak astronomi serasa dongeng tidur ya. Saya gangerti elipsium atau heliuman soalnya,” ia tersenyum menjawabnya. Kami tertawa. Ya Tuhan tolong hentikan waktu ini walau hanya sebentar. Ingin terus melihat dia yang sedang tersenyum, tertawa untukku setelah 2 tahun yang lalu, sebelum dia mendekatiku karena wanita itu.

Aku kuat, setidaknya 2 tahun untuk membendung rasa ini terhadapnya. Pria yang terlanjur hanya menganggapku sebagai sahabat, namun memerlakukanku bagai kekasih. Aku bukan terjebak dalam friendzone. Kisah kami sudah mulai semenjak 5 tahun yang lalu, selisih 3 tahun dari kisah mereka. Bedanya, tahun inilah aku selesai dengan kisah kami.

“Terimakasih,” ucap wanita itu yang bercap sebagai teman dekatku setelah aku antar pulang ke rumahnya. Hanya kuanggukan kepala sebagai jawaban.

“Ada yang ingin kuberitahu kepadamu,” aku mengurungkan niat untuk berpamitan. Kembali menaruh sepeda motorku, lalu duduk berusaha menanggapi.

“Tentang pria itu lagi? Ada apa dengannya?” tanyaku menyeimbangi topik.

“Dia memblokir semua akun milikku entah kenapa,” aku tertegun mendengarnya. Benarkah itu? Apakah dia sudah tidak menyukainya lagi? Mengapa dia tak menceritakannya padaku?

“Adakah kemungkinan dibajak ataupun tak sengaja?” dia melihat dengan kesal ke samping gangnya, berharap dapat penjelasan dari pemilik rumah itu, lalu menjawab dugaanku.

“Tidak mungkin semua akun jika tak sengaja,”

Aku pulang dengan penasaran, berharap Pria ini tak menyukai wanita itu lagi dan membuka hati untukku. Dua hari berlalu tanpa kabar darinya. Dia yang biasanya tak pernah absen berbicara padaku kini menghilang tanpa jejak. Seletah menimang-nimang, aku berinisiatif untuk berbicara dengannya. Namun, saat kulihat handphoneku, betapa perihnya hati ini menyaksikan akun sosialku pun diblokir olehnya. Aku menagis luka tanpa suara. Airmataku jatuh tanpa kuat bicara. Aku bingung, apakah aku harus kecewa atau tidak? Jika aku kecewa, memang siapa diriku baginya? Kalau tidak, namun aku menunggu ucapannya. Aku tidur dalam gelombang perasaan yang kosong.

Ternyata dua tahun dengannya walau hanya sebatas sahabat bukan hal yang paling menyakitkan. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding ditinggal tanpa alasan. Aku kuat, namun tidak ada yang baik-baik saja tentang sebuah perpisahan.

Satu tahun, waktu yang terlalu lama bagiku untuk menyusun banyak angan tentang penjelasan yang dipaksakan. Menciptakan mimpi-mimpi yang bisa membujuk hati lega, meski itu semu. Menciptakan luang-luang yang bisa membuat bibir tersenyum walau tahu itu dusta dan sekadar ilusi. Aku merindukannya dan tidak bisa mendapatkan Pria itu keluar dari pikiranku. Jujur, aku tidak bisa melupakannya.

Aku segera menyibukan diri. Membunuh dengan tega setiap kali rasa rindu itu muncul. Berat sekali, itu artinya aku harus menikam hatiku tiap detiknya. Kukira itu normal, sebagai bagian dari proses berduka. Namun cepat atau lambat, aku harus bisa menerima sepenuhnya, meskipun sebagian dari diriku masih berharap akan bisa kembali bersama-sama. Ingin rasanya kembali ke masa lalu dan mengulang yang pernah ada. Namun, hidup itu bukan hanya tentang masa lalu, kan? Hari baik yang dulu sudah baik padaku.

Kini tidak ada lagi yang dapat aku dongengkan tentang supermoon, hujan meteor, rasi bintang, dan gerhana beserta teman-temannya. Kini bukan selesai kisah kami, namun terjeda dalam waktu yang tidak ditentukan. Entahlah bagaimana skenario Tuhan akhirnya.

Komentar

Postingan Populer